Selasa, 18 April 2023

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 

1.      Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Pratap Triloka yang pernah dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara terdiri dari tiga semboyan yaitu ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

·         Ing Ngarsa Sung Tuladha,  di  depan memberi teladan. Hal tersebut berarti bahwa harus mampu menjadi teladan bagi muridnya. Sehingga seorang Guru harus selalu mempertimbangkan tingkah laku dan tindakan yang akan dilakukan agar dapat menjadi contoh dan panutan murid-muridnya. 

·         Ing madya mangun karsa, di tengah memberi motivasi. Berarti bahwa seorang guru diharapkan dapat menumbuhkan semangat dan motivasi pada diri muridnya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki sesuai dengan cara memenuhi kebutuhan belajar para murid.

·         Tut Wuri Handayani,  di belakang memberikan dukungan. Seorang guru perlu mendukung murid-muridnya untuk memaksimalkan potensi yang ada pada diri mereka.

Dalam menjalankan peran sebagai Pamong, Guru seringkali dihadapkan dalam situasi yang mengandung dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan sebuah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih dua pilihan. Di mana kedua pilihan benar secara moral, tetapi bertentangan. Bujukan moral adalah sebuah situasi ketika pendidik harus memilih keputusan benar atau salah.

Menurut filosofi Pratap Triloka tersebut, maka dalam pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Guru harus menjadi teladan yang positif, motivator, dan sekaligus dukungan bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila dan merdeka belajar. Maka, Guru perlu memiliki ketrampilan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dalam mengambil keputusan juga mengacu pada 9 langkah pengujian dan  pengambilan keputusan.

 

2.      Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan tolok ukur pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Pada modul sebelumnya  pada Pendidikan Guru penggerak, yaitu 1.2 saya mempelajari tentang nilai –nilai Guru Penggerak. Nilai -  nilai tersebut terdiri dari : 

a.      Berpihak  pada  murid, segala keputusan yang diambil oleh seorang Guru Penggerak harus didasari oleh semangat untuk memberdayakan dirinya serta memanfaatkan aset/kekuatan yang ada untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dengan menyediakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang positif serta berkualitas.

b.     Mandiri, seorang Guru Penggerak harus senantiasa memampukan dirinya sendiri dalam melakukan aksi serta mengambil tanggung jawab untuk memulai perubahan positif. 

c.      Reflektif, Guru harus mampu melakukan refleksi atau evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan, sehingga mampu mencari solusi jika ditemukan permasalahan.

d.     Kolaboratif, yaitu guru harus mampu bekerjasama baik dengan rekan sejawat, murid, wali murid maupun pimpinan.  Mampu membangun rasa saling percaya dan saling menghargai, mengakui dan mengelola kekuatan serta perbedaan peran tiap pemangku kepentingan di sekolah, sehingga tumbuh semangat saling mengisi, saling melengkapi.

e.      Inovatif,  mampu senantiasa memunculkan gagasan segar dan tepat guna.

 

Kehadiran nilai-nilai positif akan membantu dalam mengambil posisi ketika berhadapan dengan situasi atau masalah, maupun sebagai bahan evaluasi ketika membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri akan menentukan cara pandang terhadap situasi atau masalah, prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan.

Dalam modul 3.1 mengenai pengambilan keputusan, saya mempelajari ada tiga prinsip yang dapat digunakan sebagai pedoman yakni Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Prinsip-prinsip yang kita ambil dalam menghasilkan keputusan tentunya berkaitan dengan nilai- nilai yang tertanam dalam diri.

3.      Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Materi pengambilan keputusan memiliki hubungan yang erat dengan kegiatan coaching yang telah saya pelajari  dan praktekkan ada modul sebelumnya. Kemampuan seseorang dalam coaching sangat mempengaruhi bagaimana ia akan membimbing dirinya dan orang lain dalam pengambilan suatu keputusan. Pada prinsipnya, coaching merupakan suatu kemampuan seseorang dalam rangka menggali dan membangkitkan potensi yang ada pada diri coachee. Pada proses coaching kita membantu agar coachee dapat membuat keputusannya secara mandiri, maka dimodul ini kita kembali melakukan refleksi apakah keputusan yang dibuat tersebut dapat dipertanggungjawabkan, dan menjadi win-win solution bagi pembuat keputusan dan pihak laun atau justru akan dapat menimbulkan masalah di kemudian hari.

Pada pembelajaran pengambilan keputusan ini, saya diberikan panduan berupa 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan yang tentu akan membuat suatu keputusan semakin tajam dan matang.

4.      Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Penguasaan terhadap komppetensi sosial emosional tidak hanya berpotensi menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik, namun juga memberikan pondasi yang kuat di luar akademik, termasuk kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal. Terdapat lima aspek sosial dan emosional yang perlu dimiliki, yaitu  :

a.      Memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran diri)

b.      Menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)

c.       Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)

d.      Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi)

e.      Membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)

Dengan menerapkan aspek sosial emosional  tersebut, maka saat guru mengadapi dilema etika  dapat memahami, mengidentifikasi, menganalisis masalah, menemukan alternatif solusi, mengambil sebuah keputusan dengan kesadaran penuh (minfullnes) dan penuh tanggung jawab serta dapat merefleksi keputusan yang telah diambil.

5.      Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Sebagai pemimpin pembelajaarn, seorang pendidik harus mampu melihat permasalahan yang dihadapi apakah permasalahan tersebut merupakan dilema etika ataukah bujukan moral.  Pembahasan studi kasus pada modul ini memberikan contoh yang mungkin saja pernah dialami oleh sebagian guru. Nilai-nilai yang dianut oleh Pendidik akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya.

Hal ini akan memberikan rambu-rambu dan pedoman agar guru-guru tidak terjebak dalam situasi yang sama dan dapat bertindak secara bijak melalui prinsip, paradigma, dan langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan akan membuat kita semakin menyadari perilaku yang benar dan perilaku yang salah terutama mengacu pada nilai yang dianutnya.

6.      Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat akan menghasilkan suatu perubahan terhadap arah yang lebih baik dan menghasilkan win-win solution serta berpihak pada peserta didik, akan mampu  mewujudkan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Namun sebaliknya pengambilan keputusan yang salah akan berdampak buruk pada perjalanan lingkungan itu sendiri.

Maka untuk melakukan perubahan, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis. Dalam hal ini, kita menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

7.      Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Dalam kasus dilema etika, pada dasarnya apapun keputusan yang kita ambil dapat dibenarkan secara moral. Akan tetapi bagaimanapun keputusan yang dihasilkan belum tentu dapat memuaskan semua pihak, selalu ada pro dan kontra.

Beberapa hal yang menjadi tantangan dalam pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika diantaranya, adanya kelompok atau individu memiliki pendapat berbeda/ bersebrangan, komunikasi yang kurang efektif antara berbagai pihak terkait.

Seperti yang kita ketahui, pada situasi dilema etika terdapat  empat pola paradigma

a.    Individu lawan kelompok (individual vs community)

b.    Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

c.    Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

d.    Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).

Ketika terjadi paradigma yang ada, sudut pandang  akan  akan mempengaruhi seseorang atau kelompok dalam mengambil keputusan, sehingga hal harus dihadapi secara bijaksana. 

8.      Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Sebagai pemimpin pembelajaran pengambilan keputusan tentu akan berpengaruh pada pengajaran yang diberikan kepada murid. Dengan upaya pemenuhan kebutuhan murid, Guru akan mempertimbangkan  keputusan dengan mengacu pada potensi (kodrat) murid yang beragam dan memperhatikan aspek sosial emosional murid sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Salah satu upayanya adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, merancangkan metode dan strategi pembelajaran serta menyiapkan sumber belajar yang bervariasi sesuai gaya belajar dan minat murid. Melibatkan murid dalam merancang pembelajaran bahkan penilain.

9.      Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Untuk mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kita harus benar-benar memperhatikan kebutuhan belajar. Dengan mengambil keputusan menggunakan pemetaan kebutuhan murid maka murid akan dapat menggali potensi yang ada dalam dirinya dengan optimal,  sehingga kita sebagai pemimpin pembelajaran dapat memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Pendidik yang mampu mengambil keputusan secara tepat akan memberikan dampak akhir yang baik dalam proses pembelajaran sehingga mampu menciptakan anak  yang bahagia serta merdeka  lahir dan batin.

10.  Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir dari modul 3.1 kaitan dengan modul sebelumnya bahwasannya pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran berkaitan dengan tujuan pendidikan yang memerdekakan murid dalam belajar, sesuai dengan  filosofis KHD bahwa Pendidikan bertujuan menuntut segala proses dan kodrat anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan.

Dalam melaksanakan proses pembelajaran yang berpihak pada murid,  seorang pendidik harus mampu memahami kebutuhan belajar muridnya, mampu mengelola kompetensi sosial emosional yang dimiliki untuk mengambil sebuah keputusan.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang pendidik juga mempengaruhi keputusan yang akan diambilnya serta pengambilan keputusan yang tepat dapat berdampak pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Dan untuk mengambil keputusan yang baik maka Guru perlu menggunakan keterampilan coaching akan membantu untuk menemukan solusil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan.

11.  Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Bujukan moral adalah sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada situasi benar atau salah dalam mengambil sebuah keputusan. Sedangkan dilema etika merupakan situasi dimana seseorang dihadapkan pilihan yang sesuai dengan nilai –nilai kebajikan namun saling bertentangan.Ketika menghadapi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasar yang bertentangan  pola tersebut merupakan 4 paradigma yang dikategorikan : individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan, dan jangka pendek lawan jangka Panjang. kemudian Langkah berikutnya dalam membantu menghadapi pilihan dari dua permasalahan gunakan 3 prinsip pengambilan keputusan : berfikir berbasis akhir, berfikir berbasis peraturan, berfikir berbasis rasa peduli. Untuk memandu dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan di ambiln ada 9 langkah yang dapat dilakukan.

Dan di luar dugaan saya ternyata ketika kita menemukan dalam pengujian benar atau salah terdapat pelanggaran hukum maka langkah berikutnya tidak dilanjutkan karena hal tersebut merupakan bujukan moral, yang salah dan tidak bisa dilaksankan langkah berikutnya.

12.  Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, saya pernah menghadapi dilema  etika dan diharuskan mengambil keputusan dengan situasi yang sesuai dengan paradigma antara rasa keadilan lawan rasa kasihan, waktu itu saya memutuskan tanpa menggunakan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan sehingga masih ada perasaan mengganjal karena masih merasa belum memutuskan hal yang paling baik. Setelah mempelajari modul 3.1 yang harus saya lakukan adalah menganalisa permaslahan yang ada kemudian melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan,

13.  Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Setelah mempelajari modul ini memiliki peningkatan pemahaman terkait kemampuan menganalisis suatu kasus. Bertambahnya ketrampilan dalam mengidentifikasi setiap permasalahan dan  mengambil keputusan dengan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

14.  Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Mempelajari modul 3.1. terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, bagi saya sangat penting baik sebagai individu maupun  saat sebagai pemimpin. Dengan mempelajari modul ini, saya bisa memperoleh pemahaman tentang bagaimana membedakan antara kasus yang berupa dilema etika maupun bujukan moral, mempelajari tentang apa saja pola paradigma dalam situasi dilema etika, tiga prinsip yang mendasari pengambilan keputusan serta sembilan (9) langkah pengujian dan pengambilan keputusan agar menghasilkan keputusan yang terbaik dan minim resiko.

 

 

Anita April Yani

SMAN 1 Plumpang

CGP A 7 Kelas  139 A

Rabu, 11 Agustus 2021

Mudah mengelola PJJ dengan Google Classroom

Sebelum PJJ saya sudah mengkombinasi pembelajaran tatap muka dengan google Clasroom untuk pengumpulan tugas dan membagi materi sebelum pertemuan. Awalnya saya menggunakan Google Classroom dengan gmail pribadi, semua file materi dan tugas yang saya berikan dan lampiran hasil pekerjaan siswa membuat kapasitas drive yang saya miliki nyaris penuh. Apalagi saat PJJ melanda mengharuskan semua materi, tugas bahkan kuis dilakukan dengan kelas maya sehingga saya harus membuat akun gmail lain untuk pembelajaran semester  berikutnya. Bahkan saya pernah membeli akun premium untuk kapasitas drive yang lebih besar.
Setelah mendapatkan akun belajar.id tidak lagi khawatir drive penuh karena lampiran Google Classroom, saya pun dengan leluasa memisahkan file pribadi dengan file pembelajaran dan semua urusan pekerjaan. Cukup dengan satu akun, bisa saya gunakan untuk semua kelas yang saya ajar. Kuis yang disediakan sudah terintegrasi dengan Google Form yang langsung dapat diimport nilainya tanpa perlu input satu per satu. Terdapat fitur cek originalitas hasil pengerjaan siswa. Yang Paling istimewa adalah sudah  built  in dengan google meet yang cukup satu kali klik bisa digunakan untuk pembelajaran sinkronus. Dengan kapasitas 1000 siswa maka untuk 1 kelas dengan seluruh mapel bisa cukup dengan 1 Classroom saja, atau bahkan 1 sekolah.
Berikut adalah tangkapan layar Kelas yang sudah saya buat dan saya ikuti dengan Google Classroom menggunakan akun belajar.id

Untuk menggunakan Google Classroom akun belajar.id ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

  1. Pastikan Guru dan siswa sudah menerima akun pembelajaran dan  sudah diaktivasi.

  2. Buka Classroom melalui https://classroom.google.com/ atau install aplikasi Google Classroom di Play store untuk penggunaan di smartphone

  3. Buat Kelas dengan klik tanda + 

  4. Isi identitas kelas dan mapel, sesuaikan Header Class dengan tema kelas 

  5. Undang Tim Guru (untuk Kelas bersama)

  6. Undang siswa melalui email / link undangan maupun kode kelas

  7. Buat materi  dan  tugas 

  8. Buat kuis di Classroom 

  9. Pantau pembelajaran dan lakukan penilaian


Silahkan simak juga video mengenai Google Classroom dengan akun belajar.id berikut ini









Rabu, 21 Oktober 2020

PEMANFAATAN LAB MAYA DENGAN MODEL FLIPPED CLASSROOM

Flipped Classroom merupakan model atau metode belajar yang meminimalkan peran Guru, sehingga pusat pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Pada kondisi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) hanya peserta didik yang mandiri dan mau menghadapi tantanganlah yang akhirya dapat mengikuti pembelajaran secara daring dengan baik.

Flipped Classroom menggunakan proses pembelajaran terbalik, umunya peserta didik mendapat informasi atau materi di sekolah lalu mengerjakan tugas di rumah. Maka dengan model ini justru peserta didik menyiapkan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum kegiatan pembelajaran di kelas, baru ketika di dalam kelas peserta didik mengaplikasikan konsep yang telah dipelajari di rumah untuk menyelesaikan tugas atu kegiatan di sekolah.

Model ini saya terapkan pada peserta didik saya kelas XII MIPA, dengan menggungakan sistem blanded learning, yaitu pembelajaran terpadu dengan menggunakan metode sinkronus dan asinkronus. Kegiatan asinkronus saya lakukan dengan menggunakan google classroom sementara kegiatan sinkronusnya saya mencoba mengaplikasikan dengan video converence dengan platfrom zoom meeting. 

Di kelas XII semester satu terdapat beberapa materi yang tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan di laboratorium. Bukan kimia namanya kalau tidak ada percobaan. Lalu bagaimana kami melaksanakan kegiatan praktikum? Rumah Belajar ternyata punya solusinya.

Pada Portal rumah belajar, seperti artikel yang sudah saya ulas sebelumnya terdapat fitur laboratorium virtual yang bermanfaat untuk melaksanakan simulasi praktikum. Kali ini saya terapkan pada materi Sel Elektrolisis. 

Penasaran bagaimana implementasinya ? simak vlog saya di bawah ini atau silahkan mampir di channel youtube saya untuk melihat video lebih lengkap. Klik di sini untuk nonton langsung di youtube saya. 


Jangan lupa like dan komen membangun ya ! Kalau dirasa bermanfaat silahkan di share, dan bagi yang belum silahkan subscribe ya agar kita bisa saling berbagi informasi bermanfaat untuk pendidikan.

Merdeka Belajar, Rumah  Belajar Portalnya, Maju Indonesia
Rumah Belajar, Belajar di mana saja, Kapan saja, Dengan Siapa saja

#PembaTIK
#PembaTIK2020
#RumahBelajar
#Level4berbagi


BERBAGI DI RUMAH SENDIRI


Sosialisasi Pemanfaatan Rumah Belajar di Sekolah sendiri ternyata tidak selalu berjalan mulus sesuai dengan yang direncanakan. 

Setelah beberapa kali merencanakan selalu saja ada sebab musabab yang menjadikan kegiatan tidak dapat kami selenggarakan sekali waktu. Namun, bukan Sahabat Rumah Belajar namanya kalau tidak bisa menciptakan peluang dan kesempatan untuk berbagi. Tanggal 20 Oktober 2020, ada kegiatan kolektif di sekolah kami yakni Rapat Kordinasi dalam rangka persiapan visitasi Sekolah Adiwiyata Provinsi. Kesempatan itulah yang saya ambil celahnya untuk menguatkan kembali apa yang sudah pernah saya sharingkan dengan teman sejawat kami sebelumnya. Dokumentasi undangan terlampir.

Pelaksanaan koordinasi tentu saja menghadirkan seluruh Bapak Ibu Guru serta karyawaan, maka dengan menyampaikan maksud hati saya, jadilah undangan rapat yang disebarkan tanggal 19 Oktober 2020 itu ditambah agenda sosialisasi Pemanfaatan Rumah Belajar kepada Bapak dan Ibu Guru serta karyawan yang beraktifitas harian di satu-satunya Sekolah tingkat atas yang berstatus Negeri di Kecamatan Plumpang tersebut.

Pertemuan kami awali jam 08.00 WIB sesuai undangan yang tertera, dengan dibuka oleh Bapak Nuril Huda selaku pengatur jalannya pertemuan. Setelah itu Ibu Sri Mirah, S.Pd Kepala Sekolah kami menyampaikan kata pengantar dan sambutannya. Di hadapan para Guru lain, beliau dengan tegas menyatakan dukungannya atas kegiatan PembaTIK yang saya ikuti selama ini serta memotivasi penuh kegiatan berbagi yang saya laksanakan, baik di lingkungan internal sekolah maupun di luar sekolah.

Agar pembahasan persiapan visitasi kami laksanakan dengan leluasa, maka saya diberikan kesempatan terlebih dahulu untuk melakukan presentasi. Hanya saja, lagi-lagi kondisi kurang mendukung, karena tiba-tiba listrik padam dan saya tidak bisa dengan gamblang menampilkan apa yang hendak saya sampaikan di LCD Projector. Serupa pepatah " Tak ada rotan akar pun jadi " maka saya manfaatkan laptop yang saya bawa, sambil pelan-pelan memandu Bapak dan Ibu Guru yang kenal sama sekali fitur dan cara pemanfaatan Portal Rumah Belajar.

Sharing berlangsung singkat namun mengena, karena akhirnya beberapa Bapak Ibu yang semula ragu, ikut mengeksplorasi layar ponselnya untuk menjelajah fitur rumah belajar lebih jauh.

Pukul 09.00 dilanjurkan dengan pembagian tugas dalam rangka persiapan menyambut tamu Dinas Lingkungan Hidup dan tim dari Provinsi tanggal 27 Oktober mendatang.

Semoga kegiatan kami selalu lancar, dan meninggalkan momen berupa pengalaman dan pengetahuan berharga yang tidak pernah dapat kami beli.

Link dokumen daftar hadir dapat dilihat di sini.

Berikut adalah sebagian dokumentasi kami saat sharing terkait Rumah belajar dan cara memanfaatkannya dama pembelajaran.




Merdeka Belajar, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indonesia

Rumah Belajar, Belajar di mana saja, Kapan saja , Dengan Siapa saja


#Merdekabelajar

#PembaTIK

#PembaTIK2020

#Level4berbagi

Selasa, 20 Oktober 2020

WEBINAR INOVASI

 


Senin, 19 Oktober 2020 adalah hari yang luar biasa buat saya. Ada tiga kegiatan webinar estafet yang saya jalani bersama teman-teman Sahabat Rumah Belajar 2020. Awalnya hanya merencanakan dua buah kegiatan dengan SRB Jawa Timur, yakni pagi jam 10.00 dan sore jam 15.30 WIB. Tapi rezeki tak bisa ditolak, ditanggah-tenggahnya datanglah permintaan kolaborsi berbagi dengan SRB 6 Provinsi yang sudah saya ceritakan pada artikel sebelumnya. 
Bagaimanapun sekali layar terkembang, pantang untuk berbalik arah, jadilah dengan tenaga ekstra saya harus menjalani ketiganya dengan tanpa berat sebelah.
Sayangnya saat waktu menujukkan pukul 15.30 WIB Kegiatan Obrolan dengan SRB dan DRB tersebut belum usai. jadilah saya memberanikan diri untuk undur diri terlebih dahulu, karena akan menyajikan materi pada Webinar yang sudah saya rencanakan dengan ketiga sahabat saya yang sama-sama dari Jawa Timur. 


Setelah pukul 15.35 saya sudah berhasil memasuki room meeting, untuk persiapan berbagi yang ke tiga dengan menggunakan Laptop HP yang saya miliki. Karena kami berempat akan saling bergantian menyampaikan materi maka saya mohon izin sebagai penyaji yang terakhir.
Pemateri Pertama adalah Ibu Renita Erdiana dari SMK N 1 Badengan, Kabupaten  Ponorogo. Materi inovasi yang disajikan berjudul Pemanfaatan Sumber Belajar dengan Model Discovery Learning disampaikan secara singkat namut jelas oleh beliau.


Dilanjutkan dengan Bu Wiwin Triaawandari  dengan sajian mengenai integrasi Kelas Maya dengan Sumber Belajar dan Bu Puspita Andriyanti menyampaikan judul Pemanfatan Sumber Belajar MPI  Dalam Materi Gerbang Logika. 
Dan saya sebagai penutup menyampaikan Penggunan Lab Maya Pada Materi Sel Elektrolisis dengan Model Flipped Classroom. 



Kegiatan tersebut berlangsung singkat karena tidak terlalu banyak audien yang bertanya dan menyapaikan diskusinya, 
Ternyata berbagi untuk indah, semakin banyak kita berbagi sebenarnya akan semakin memperkaya pengalaman.

Link Presensi dan pendaftaran dapat dilihat disini.

Apa itu Kaledo ?


Kaledo adalah makanan khas dari Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah tepatnya di kota Palu. Kaledo merupakan akronim dari kaki lembu Donggala. Makanan ini mirip dengan sup buntut, sup kaki lembu tersebut tidak disajikan dengan nasi seperti umumnya makanan Indonesia, melainkan dengan ubi. Kali ini saya tidak akan membahas dan mengukas lebih detail tentang bagaimana rasa dan menariknya makanan ini lho! 
Istilah ini kemudian kami adaptasi untuk nama kegiatan berbagi peserta PembaTIK level 4 yang dikenal dengan sebutan Sahabat Rumah Belajar (SRB) dengan para Duta Rumah Belajar atau DRB tahun 2017 dari 6 Provinsi, yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara,  Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan KAlimantan Utara. Kaledo kami memiliki kepanjangan Kita Lanjutkan Lebih Dekat Dengan Obrolan, mantap bukan ?
Kegiatan kami selenggarakan dalam bentuk berbagi pengalaman antar sesama SRB dan DRB, diawali dengan paparan serta motivasi luar biasa oleh Kepala Pengembangan Teknologi Pendidikan (PTP) Pusdatin, Bapak Gogot Suharwoto, P.hd. Yang mengatur jalannya kegiatan yaitu Bapak Yandhu Ardiansyah sebagai host serta Ibu Elis N Hasibuan, keduanya merupakan SRB tahun 2020 dari Provinsi Sulteng.


Diawali sejak pukul 14.30 WITA atau setara dengan 13.30 WIB, Senin 19 Oktober 2020 obrolan tersebut berlangsung santai namun penuh makna. Satu persatu DRB dan SRB dari tiap-tiap Provinsi menyampaikan pengalaman - pengalaman menarik, tantangan maupun hikmah yang didapatkan sebagai peserta PembaTIK baik selama kegiatan maupun ketika sosialisasi.
Masing-masing Provinsi mempunyai kendalanya tersendiri, dari sharing tersebut tanpa sadar banyak hal yang harus kami syukuri dari keberadaan kami saat ini.
Semoga kegiatan berbagi tetap bisa kami laksanakan tidak sekedar untuk menunaikan tugas level 4, tapi sudah menjadi bagian dari tanggung jawab kami untuk memajukan pendidikan di Indonesia.



Merdeka Belajar, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indonesia.
Rumah Belajar, Belajar di mana saja, Kapan saja, Dengan siapa saja.
#PembaTIK
#PembaTIK2020
#Level4
#Level4berbagi
#RumahBelajar 

Daftar hadir kegiatan bisa cek di sini

Senin, 19 Oktober 2020

KOLABORASI PANCAGATI


Pancagati menurut kebahasaan terdiri dari dua kata yaitu "panca" dan "gati". Panca adalah istilah yang menunjuk mankan lima dan gati berarti siap. Kali ini Senin 19 Oktober 2020 Kami lima  orang Sahabat Rumah Belajar Jawa Timur melaksanakan sosialiasi mengenai inovasi pembelajaran yang telah kami lakukan selama pandemi mengggunakan Portal Rumah Belajar. 

Kami berlima terdiri dari Bu Evin Andriani dari SMKN 8 Jember yang berperan sebagai host, Bu Galih Harsul Lisanti yang mengatur jalannya webinar sebagai moderator dari SDN 3 Mojosari Tulungagung serta tiga orang Panelis Ibu Noor Hayati , Ibu Faria Masrikanah dan tentu saja saya Anita April Yani.

Kegiatan Sosialisasi itu kami selenggaran dengan metode tatap maya melalui youtube menggunakan platform streamyard. Karena memiliki beberapa keunggulan diantaranya adalah flesibilbel untuk mengubah tampilah layout. Kita bisa mengatur siapa yang muncul di layar streaming, apakah smeuanya atau bergantian sesuai dengan materi atau topik yang sedang dipresentasikan. Panelis bisa di atur muncul di layar sevara keseluruhan atau dibiarkan di belakang layar. Saat Panelis tidak sedang berbicara, bisa di setting di belakang layar sehingga gambar dan suara tidak muncul di tampilan. Selain itu streammyard mudah digunakan.



Setelah Webinar ini di buka oleh Host, berikutnya Moderator memperkenalkan diri dan tentu saja mengenalkan para Panelis secara bergantian. 



Pemateri pertama adalah Bu Noor Hayati, Guru Biologi dari SMA 1 Boyolangu Tulungagung. Beliau mengenalkan tentang Portal Rumah Belajar, bagaimana cara mengakses dan menggunakannya. Fitur yang ada di dalamnya pun diulas secara detail, tidak hanya fitur utama saaja tapi juga fitur -fitur tambahan tidak terlewat satupun dari pemaparannya. Di sampaikan secara runtut, detail dan cukup gamblang oleh beliau. Setelah lebih 15 menit  beliau mengakhiri presentasinya dengan salam dan ucapan terimaksih.



Moderator mengambil alih, dan memberikan kesempatan Pemateri kedua untuk menyampaikan pengalaman Ibu Faria Masrikanah, Guru TK Muslimat NU 82 Nurul Fityan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Dari sharing yang beliau sampaikan ternyata Rumah Belajar sangat bermanfaat untuk pembelajaran di Pendidikan Usia Dini (PAUD) dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning Guru yang ramah dan banyak senyum tersebut menyampaikan langkah-langkah pembelajaran yang telah dilakukan serta fitur Rumah Belajar apa saya yang bisa dimanfaatkan tidak lupa juga produk dan hasil pembelajaran yang telah didokumentasikan disampaikan kepada audion dengan cukup menarik.

Setelah Moderator mengambil alih kembali kendali Webiner, selanjutnya tiba giliran saya untuk menyampaikan hasil implementasi dan inovasi saya dengan menggunakan Rumah Belajar. Saya menggunkan judul materi Kimia Asyik dengan Edugame. Sayangnya saat saya mulai presentasi saat itu pula saya mengalami trouble pada jaringan internet yang saya gunakan. Karena kami adalah Pancagati, maka Moderator dan Host yang selalu siap itu, siap membackup kami untuk mengambil alih smenetara saya menyelesaikan masalah dengan trouble signal yang saya alami. Kurang lebih 5 menit baru bisa saya selesaikan setelah saya berganti jaringan menggunakan teethering dari ponsel yang saya gunakan. 

Dengan perasaan bersalah  karena hampir mengacaukan acara saya sendiri, saya melanjutkan presentasi. Dalam forum itu saya menyampaikan bahwa untuk menyajikan pembelajaran Kimia yang menarik dan dapat memotivasi siswa maka  salah satu alternatifnya adalah menggunakan media pembelajaran yang kekinian dalam hal ini adalah Permainan Courier Go yang merupakan Produk Edugame dari Rumah Belajar Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sesi tanya jawab berlangsung melalui menti meter yang kemudian di bacakan oleh Moderator satu persatu dan tentu saja kami jawab bergantian sesuai dengan materi yang telah kami sampaikan tadi. Alhamdulillah meski pengunjung datang silih berganti akan tetapi secara keseluruhan yang mengikuti cara kami tidak mengecewakan. Untuk melihat daftar peserta yang mengikuti live streaming kami bisa diklik di sini,

Tepat pukul 11.25 Live youtube kami akhiri, yang kemudian kami lanjutkan dengan koordinasi di belakang layar. Melakukan inovasi itu tidak mudah, berbagi juga bukan tanpa kendala. Tapi kami yakin bahwa selama yang kami lakukan demi kebaikan maka akan selalu ada jalan.

Merdeka Belajar, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indonesia

Rumah Belajar, Belajar di mana saja, Kapan Saja, Dengan Siapa saja.


#PembaTIK

#PEmbaTIK2020

#rumahbelajar

#merdekabelajar

#Level4

#berbagiinovasi






Sabtu, 17 Oktober 2020

SEKALI DAYUNG, DUA TIGA PULAU TERLAMPAUI

Sabtu, 17 Oktober 2020


Jarum di jam tangan berdetak menunjuk angka 12.30, saya baru saja melepas penat selepas perjalanan pulang dari sekolah tempat saya mengabdikan diri 8 tahun terakhir. SMAN 1 Plumpang, sudah mulai melaksanakan kegiatan tatap maya terbatas. Untuk itulah saya harus pandai mengatur waktu dan perhatian untuk anak didik di sekolah, anak didik yang sedang belajar di rumah dan tentu saja anak-anak biologis saya yang juga merasakan kegiatan belajar secara tatap maya.

Selepas sholat dhuhur, sekeder membuat whatsapp masangger untuk memeriksa pesan masuk yang belum terbaca selama 50 menit perlajalan saya tadi. Jemari saya berhenti pada Grup Wali murid SD Plus At-Taqwa, kemudian membuka informasi yang disampaikan Oleh Ustadzah Zulfa selaku Wali Kelas IV bahwa Sabtu tanggal 17 Oktober kami diminta hadir di sekolah untuk menerima laporan belajar putra-putri kami selama setengah  semester tahun ajaran 2020-2021. 

Dari undangan tersebut muncullah inisiatif saya untuk berbagi dengan Orangtua dari teman-teman sekelas anak saya, secara personal saya menyampaikan izin kepada Kepala SD Plus At-Taqwa sore itu melalui chat juga. Akhirnya tidak hanya untuk walimurid daja, justru top manajer sekolah berbasis pendidikan Agama Islam itupun menyambut dengan terbuka untuk sosialisasi dengan para pengajar di Sekolah itu. Rezeki yang luar biasa bagi saya.

Jumat, 16 Oktober 2020 saya datang ke kantor SD untuk berkordinasi lebih jauh terkait kegiatan yang kami rencanakan. 



Sekolah SD Plus At Taqwa telah menerima penghargaan juara II sebagai Sekolah Tangguh Corona setingkat SD di Kabupaten Lamongan. Selain itu berdasarakna informasi terkini mengenai perkembangan jumlah kasus Corona di Kecamatan Brondong yang sudah berubah menjadi zona hijau, maka kami bersiap menerima peserta didik untuk pembelajaran tatan muka terbatas. Di awlai dengan mengundang wali murid dalam pertemuan ini, tentu tetap dengan menerapkan protokol kesehata berupa kegitan cuci tangan, penyedian Hand Sanitizer dan wajib menggunakan masker.
Alhamdulillah sosialisasi pemanfaatan fitur Rumah belajar kepada sejumlah 30 walimurid kelas IV berjalan penuh antusiasme, banyak diantaranya yang lansung instal aplikasi di tempat dan berkonsultasi secara langsung.
Kepada Wali murid saya hanya menjelaskan tentang fitur-fitur rumah belajar dan bagaimana memanfaatkan untuk pendampingan belajar dengan putra-putrinya. Sangat disayangkan kalau kuota belajar yang diterimakan ke peserta didik menjadi kurang bermanfaat, meskipun selama pembelajaran jarak jauh Ustadz-Ustadzah sudah menggunakan Video Pembelajaran akan tetapi saya sampaikan bahwa menambah referensi jauh lebih baik, bahkan di sumber belajar tidak terbatas hanya konten dalam bentuk video saja tapi juga dalam bentuk permainan yaitu berupa konten Web. 
Salah satu Walimurid menanyakan solusi belajar dan saran menimbulkan minat putrinya yang kurang tertarik dengan tayanagan video, tentu saja kami punya sumber belajar audio dan suara edukasi yang sangat sesuai untuk anak dengan tipe belajar audio.
Berikut daftar hadir Walimurid yang mengikuti sosialisasi beserta dokumentasi kegiatan hari ini.





Setelah semua walimurid kelas IV menerima rapot dan informasi terkait perkembangan putra-putrinya. Tiba giliran Asatidzah bersiap bertukar informasi tentang pengalaman belajar selama pandemi. Meski kami mengajar di tingkatan sekolah berbeda akan tetapi bukan Rumah Belajar namanya kalau tidak bisa menjawab kebutuhan kegiatan belajar dari SD, SMP, SMA, SMK bahkan SLB.



Saya menyampaikan tentang Pemanfaatan Edugame untuk pembelajaran, dengan menampilkan fitur tersebut saya menunjukkan Game Pilah Paket Courier Go, game tersebut saya manfaatkan untuk pembelajaran Kimia materi Sistem Periodik Unsur. Sementara  untuk pembelajaran SD saya menawarkan beberapa game lain yang bisa diguanakan sesuai materi yang sedang diajarkan, diantaranya Petualangan Antariksa Vol 1 dan 2 untuk pembelajaran Matematika SD Kelas II.

Berikut adalah daftar hadir dan dokumentasi kegiatan sosialisasi dengan Ustadz - Ustadzah di SD Plus At-taqwa Brondong Lamongan pada hari Sabtu, 17 Oktober 2020










Merdeka Belajar, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indonesia

Rumah Belajar, Belajar di mana saja, kapan saja, denga siapa saja

#pembaTIK
#pembaTIK
#Level4berbagi
#Rumahbelajar